Jokowi - Mega : dipersimpangan jalan?. (4)

 Jokowi - Mega : dipersimpangan  jalan?.   (4) Kekukuhan dan kejumawaan Mega ini terlihat dalam pidatonya  ketika dalam suatu acara intern PDIP dimana Jokowi juga tampak hadir.  Dengan nada yang sangat jumawa dan mengenyek Mega berkata :  "pak Jokowi ini bisa sampai seperti sekarang ini, karena PDIP lho?. Kalau ga karena PDIP he he...gak tau deh..... horrrre..,katanya sambil bersorak sendirian dengan wajah sinis. Jokowi yang ketika itu hadir dibarisan tempat duduk paling depan hanya tersenyum kecut ketika mendengar ucapan Mega. Barangkali dengan adanya beberapa perbedaan dan kejadian tsb diatas lah yang membuat Jokowi kemudian mulai melangkah kearah lain. Tak lagi mematuhi apa yang diinginkan Mega.  Peristiwa seperti itu (dienyek Mega didepan orang banyak),meski diintern partainya sendiri,karena dipublish  tentu dilihat dan diketahui juga oleh publik termasuk sang isteri Iriana.  Dan konon,Iriana lah yang kemudian menghendaki agar Gibran...

Kekeliruan Sepanjang Masa

Apakah Fungsi Partai? 

Membentuk negara dan pemerintahan. Selain banyaknya tugas lain yang harus dilakukan.

Sebab, bila tak ada partai tak 'kan ada negara, pemerintahan. Karena syarat  terbentuknya suatu negara adalah : adanya bumi, penduduk dan pemerintahan. 

Karena itu bila tak ada partai maka tak 'kan ada pemerintahan. Bagaimana caranya rakyat memilih para pemimpin dan pejabatnya bila tak ada partai. Jelas  partai sangat dibutuhkan.

Di Amerika yang katanya panutan demokrasi,partai hanya ada 2: Republik dan Demokrat. Sehingga yang terjadi mereka bisa menang dan kalah silih berganti dalam pemilu, karena berkutat hanya disekitar 2 partai itu saja. Jadi lebih simpel,dan rakyatnya pun tidak kerepotan memilih ketika pemilu.

Tidak seperti dikita dengan dalih dan ikut2an  negara demokrasi,  di jaman presiden Sukarno ada 42 partai, sehingga rakyat pun bingung harus memilih yang mana karena tak mengerti. Seperti halnya kecap yang merk-nya selalu no 1, partai pun demikian tak mau kalah dengan kecap. 

Yang terjadi kemudian,Sukarno pun sebagai presiden ikut bingung, karena semua partai ingin punya menteri di kabinet. Sehingga  dibentuklah 100 kementrian,dengan 100 menteri.

Di era presiden Suharto,partai yang tadinya ber-puluh2 itu lalu diperas hanya ada 3.Jadi simpel dan situasi politik,ekonomi relatif stabil. Kesalahannya,karena kekuasaan yang tirani, diktator, maka para pejabatnya  se-mau2.

Kini diera reformasi partai pun bermunculan lagi jadi banyak. Yang sudah resmi terdaftar di KPU dan boleh ikut pemilu ada sekitar 25 partai.  

Bisa dibayangkan lagi betapa repotnya rakyat nanti dalam pemilu 2024 ,rakyat harus mencoblos yang mana? Karena rakyat sebenarnya taklah mengerti dan tak begitu peduli tentang partai. Yang penting harga2 kebutuhan hidup murah dan lapangan kerja mudah.

Partailah yang dominan dan menentukan baik buruknya suatu pemerintahan. Logikanya,partai adalah sentralnya para pejabat.

Merekalah yang menentukan para pejabat dan roda suatu pemerintahan. Bila harga2 meningkat dan mahal, lapangan kerja susah adalah juga tugas partai dan merupakan keharusan untuk membenahinya.

Tapi bagaimana bila partai tak membenahi atau tak mampu mengatasi itu semua? Termasuk masalah korupsi yang sekarang semakin menggila?

Tak usah demo turun kejalan, karena demo akan mengganggu kepentingan umum. Rakyat yang tak berpartailah secara person to person yang harus berjuang dan mendesak partai agar segera menyelesaikan masalah. 

Karena kini jaman digital dan hampir semua memiliki hp, rakyat yang tak ikut berpartai pun bisa melakukannya melalui medsos mengkritik dan mendesak pemerintah agar menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi.

Sayangnya,cara seperti ini belum banyak dilakukan secara massal, sehingga kekeliruan pun tetap saja terjadi. Sepanjang masa.*

Komentar